Rabu, 25 Mei 2016

SEBAB-SEBAB TERJADINYA PERSALINAN IBU



MAKALAH
BIOLOGI REPRODUKSI
SEBAB-SEBAB TERJADINYA PERSALINAN
http://mcbs1keperawatanpunyo.files.wordpress.com/2012/12/lam2.jpeg


OLEH 
SUCI AULIA RAHMI



PRODI DIII KEBIDANAN


DOSEN PEMBIMBING  : NUR FADJRI NILAKESUMA S.Keb,Bd




STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
Tahun Akademik 2014/2015

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNyalah sehingga penulisan makalah ini yang berjudul “sebab-sebab terjadinya persalinan”dapat terselesaikan dengan baik tepat pada waktunya. Apapun yang kami sajikan semoga selalu bermanfaat bagi para pembacanya.
Kami  juga mengucapkan terima kasih bagi orang-orang yang telah berjasa membatu  dalam pembuatan makalah ini.karna berkat merekalah dapat terciptanya makalah ini.maka kami terima kasih kepada :
1.      Dosen pemimbing NUR FADJRI NILAKESUMA,S.KEB.Bd mata kuliah konsep kebidanan yang telah memimbing kami dalam mata kuliah ini.
2.      Orang tua yang telah memberikan fasilitas kepada kami sehingga mempermudah dalam pembuatan makalah ini.
3.       Teman-teman yang turut membantu dalam penyempurnaan makalah ini.

Kami  menyadari bahwa laporan  ini masih memiliki banyak kekurangan baik isi maupun teknik penulisan. untuk itu kritik dan saran sangat diperlukan untuk perbaikan.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Padang,   Oktober 2014











DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
B.     Rumusan masalah
C.     Tujuan
D.    Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
A.    Sebab- sebab persalinan secara umum
B.     Sebab-sebab persalinan menurut para ahlisss
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA
















BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Persalinan adalah proses fisiologik dimana uterus mengeluarkan atau berupaya mengeluarkan janin dan plasenta setelah masa kehamilan 20 minggu atau lebih dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan.
Persalinan adalah tugas dari seorang ibu yang harus dihadapi dengan tabah, walaupun tidak jarang mereka merasa cemas dalam menghadapi masalah tersebut. . Hal ini dikarenakan orangtua tersebut belum berpengalaman dan belum memiliki cukup pengetahuan tentang proses bersalin itu sendiri Oleh karena itu, mereka memerlukan penolong yang dapat dipercaya, yang data memberikan bimbingan dan semangat selalu siap di depan dalam mengatasi kesukaran, berperan penting sebagai educator untuk memberikan pengetahuan tentang proses persalinan kepada pasangan suami istri yang akan menjadi orangtua. Bukan hanya mereka yang merasakan kepanikan, tetapi orangtua yang telah melahirkan sebelumnya pun bisa juga panik, karena pengalaman masa lalu yang tidak mengenakkan.
Adapun penyebabpenyebab terjadinya suatu persalinan yang harus dipahami oleh ibu hamil yang akan melahirkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada saat proses persalinan.
B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja yang menjadi penyebab-penyebab persalinan?
2.      Apa saja yang menjadi penyebab-penyebab persalinan menurut para ahli ?
C.     TUJUAN
1.      Mengidentifikasi apa saja penyebab dari persalinan
2.      Mengidentifikasi penyebab persalinan menurut para ahli
D.    MANFAAT
1.      Untuk mengetahui sebab-sebab persalinan.







BAB II
PEMBAHASAN
SEBAB-SEBAB TERJADINYA PERSALINAN
Sebab sebab terjdinya persalinan secara umum :
Faktor yang memegang peranan penting sehingga menyebabkan persalinan.
Beberapa teori yang dikemukakan adalah :
·        Penurunan kadar estrogen dan progesteron
Gesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya hormon estrogen meninggikan kerentanan otot-otot rahim.selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his.
·        Teori oksitosin
Hormon oksitosin mempengaruhi kontraksi otot-otot rahim. Pada akhir kehamilan, kadar oksitosin bertambah, sehingga uterus menjadi lebih sering berkontraksi.
·        Teori distansia rahim
Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung, bila dindingnya teregang oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya.demikian dengan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin teregang otot-otot dan otot-otot rahim makin rentan.
·         Pengaruh janin
Hipofyse dan kelenjar suprarenal janin memegang peranan oleh karena pada anencephalus kehamilan sering lebih lama dari biasa.
·        Teori prostaglandin
Prostaglandin yang dihasilkan oleh desidua, menjadi salah satu penyebab permulaan persalinan.
·        Teori plasenta menjadi tua
Menurut teori ini, plasenta menjadi tua akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
·        Teori iritasi mekanik
Di belakang serviks terdapat ganglion servikale (fleksus frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin, maka akan timbul kontraksi.
 Sebab-Sebab Terjadinya  Persalinan Menurut para ahli :
            Menurut Mochtar (2000), sebab-sebab yang menimbulkan persalinan antara lain :
a.       Teori Penurunan Hormon
Selama satu sampai dua minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesteronProgesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim, dengan turunnya progesteron akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his yang akan mendorong hasil konsepsi keluar. Faktor-faktor hormonal, pengaruh prostaglandin, struktur uterussirkulasi uterus, pengaruh syaraf dan nutrisi disebut sebagai faktor-faktor yang mengakibatkan partusmulai. Kadar prostaglandin meningkat sejak minggu ke-15 hingga aterm, lebih-lebih sewaktu partus.
b.      Teori Plasenta Menjadi Tua
Sama halnya dengan teori pertama dan teori menurunnya hormon yang dipengaruhi oleh plasenta menjadi tua yang juga mengakibatkan villi korealismengalami perubahan sehingga kadar estrogen dan progesteron menurun.
c.       Teori Distensi Rahim
      Kedaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang mengakibatkaniskemia otot-otot uterus. Hal ini memungkinkan terganggunya sirkulasi utero plasenta, sehingga plasenta mengalami degenersi.
d.      Teori Iritasi Mekanik
Adanya tekanan pada ganglion serviks dari pleksus frankenhouser yang terletak dibelakang serviks. Bila ganglion ini tertekan oleh kepala janin maka akan timbul kontraksi uterus.
e.       Induksi Partum (Induction Of Labor)
Induksi partum dilakukan dengan merangsang pleksus frankenhouserdengan memasukan beberapa gram laminaria dalam kanalis servikalis, memecah ketuban,penyuntikan oksigen (sebaiknya dengan jalan infus), pemakaianprostaglandin dan sebagainya. Dalam induksi persalinan harus diperhatikan bahwaserviks sudah matang (sudah pendek dan lembek), juga serviks telah membuka untuk satu jari. Untuk menilai serviks dapat juga menggunakan skor orshop atau bishop skor. Bila nilai bishop lebih dari induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil.
f.       Teori berkurangnya nutrisi pada janin dikemukakan pertama kali oleh Hipokrates jika nutrisi berkurang maka hasil konsepsi akan segera dikeluarkan.

Sebab-sebab yang menimbulkan persalinan (Mochtar, 1998)
1)      Penurunan kadar progesteron
Progesteron menimbulkan relaksasi otot rahim, sebaliknya esterogen meninggikan kerentanan otot rahim. Selama kehamilan terdapat keseimbangan antara kadar progesteron dan esterogen di dalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his.
2)      Teori Oxytosin
Pada akhir kehamilan kadar oxytosin bertamabah. Oleh karena itu timbul kontraksi otot-otot rahim.
3)      Keregangan otot-otot
Seperti halnya dengan kandung kencing dan lambung, bila dindingnya teregang oleh karena isinya bertambah maka timbul kontraksi untuk mengeluarkan isinya. Demikian pula degan rahim, maka dengan majunya kehamilan makin teregang otot-otot dan otot-otot makin rentan.
4)      Pengaruh janin
Hypofisis dan kelenjar suprarenal janin rupa-rupanya juga memegang peranan oleh karena pada anencephaluskehamilan sering lebih lama dari biasa.


5)      Teori prostagladin
Prostagladin yang dihasilkan oleh decidua, disangka menjadi salah satu sebab permulaan persalinan. Hal ini juga disokong dengan adanya kadar prostagladin yang tinggi baik dalam air ketuban maupun darah perifer pada ibu-ibu hamil sebelum melahirkan atau selama persalinan.
6)      Lightening
Terbenamnya kepala janin ke dalam rongga panggul karena berkurangnya tempat di dalam uterus dan sedikit melebarnya symphisis. Keadaan ini sering meringankan keluhan pernafasan serta heartburn dan pada primigravida akan terlihat pada kehamilan 36 mingu sementara pada multipara baru tampak setelah persalinan dimulai mengingat otot-otot abdomennya lebih kendor.
7)      Sering buang air kecil
Sering buang air kecil yang disebabkan oleh tekanan kepala janin pada kandung kemih.
8)      Kontraksi Braxton-Hicks
Kontraksi Braxton-Hicks pada saat uterus yang teregang dan mudah dirangsang itu menimbulkan distensi dinding abdomen sehingga dinding abdomen menjadi lebih tipis dan kulit menjadi lebih peka terhadap rangsangan. 

Menurut Wiknjosastro (2006) mulai dan berlangsungnya persalinan, antara lain :
a.    Teori penurunan hormon
Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron yang terjadi kira – kira 1 – 2 minggu sebelum  partus dimulai. Progesterone bekerja sebagai penenang bagi otot – otot uterus dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesterone turun.
b.   Teori plasenta menjadi tua
Villi korialis mengalami perubahan – perubahan, sehingga kadar estrogen dan progesterone menurun yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
c.    Teori berkurangnya nutrisi pada janin
Jika nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera di keluarkan.
d.   Teori distensi rahim
Keadaan uterus yang terus menerus membesar dan menjadi tegang mengakibatkan iskemia otot – otot uterus. Hal ini mungkin merupakan faktor yang dapat menggangu sirkulasi uteroplasenter sehingga plasenta menjadi degenerasi.
e.    Teori iritasi mekanik
Tekanan pada ganglio servikale dari pleksus frankenhauser yang terletak di belakang serviks. Bila ganglion ini tertekan, kontraksi uterus akan timbul.
f.    Induksi partus (induction of labour)
Parus dapat di timbulkan dengan jalan :
1)      Gagang laminaria : beberapa laminaria di masukkan dalam kanalis servikalis dengan tujuan           merangsang pleksus frankenhauser.
2)      Amniotomi : pemecahan ketuban.
3)      Oksitosin drips : pemberian oksitosin menurut tetesan infuse.

Proses Terjadinya Persalinan (Asrinah,et al, 2010, hal.3)
Sebab yang mendasari terjadinya partus secara teoritis masih merupakan kumpulan teoritis yang kompleks teori yang turut memberikan andil dalam proses terjadinya persalinan antara lain:
(1) Teori kerenggangan: otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu. Setelah melewati batas tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dimulai.
(2) Teori penurunan progesteron: Progesteron menurun menjadikan otot rahim sensitif sehingga menimbulkan his atau kontraksi.
 (3) Teori oksitosin: Pada akhir kehamilan kadar oksitosin
bertambah sehingga dapat mengakibatkan his.
 (4) Teori pengaruh prostaglandin: Pemberian prostaglandin saat hamil dapat menimbulkan kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dikeluarkan.
 (5) Teori plasenta menjadi tua: dengan bertambahnya usia kehamilan, plasenta menjadi tua dan menyebabkan villi corialis mengalami perubahan sehingga kadar esterogen dan progesteron turun. Hal ini menimbulkan kekejangan pembuluh darah dan menyebabkan kontraksi rahim.
(6) Teori distensi rahim: keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang mengakibatkan iskemia otot-otot uterus sehingga mengganggu sirkulasi uteroplasenter.
(7) Teori berkurangnya nutrisi: bila nutrisi pada janin berkurang, maka hasil konsepsi akan segera dikeluarkan










BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Sebab-sebab terjadinya persalinan adalah Penurunan kadar estrogen dan progesterone,teori oksitosin,teori distansia rahim,pengaruh janin,teori prostaglandin,teori plasenta menjadi tua,teori iritasi mekanik
Adapun sebab-sebab terjadinya persalinan menurut para ahli :
a.             Mochtar (2000)
Teori penurunan hormone,teori plasenta menjadi tua,teori distensi rahim,teori iritasi mekanik,teori induksi partum,teori nutrisi
b.            Mochtar (1998)
Penurunan kadar progesterone,teori oxytosin,keregangan otot-otot,pengaruh janin,teori prostaglandin,teori lightening,sering buang air kecil,kontraksi Braxton-hicks
c.             Wiknjosastro (2006)
Teori penurunan hormone,teori plasenta menjadi tua,teori berkurangnya nutrisi pada janin,teori distensi rahin,teori iritasi mekaanik,induksi partus.
d.            Asrinah (2010)
Teori kerenggangan,teori penurunan progesterone,teori oksitosin,teori pengaruh prostaglandin,teori plasenta menjadi tua,teori distensi rahin,teori berkurangnya nutrisi












DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E. 2001. RencanaKeperawatan. Jakarta : EGC.
Saminem.2002. Seri AsuhanKebidananKehamilan Normal. Jakarta: EGC.
Kusmiyati, Yuni. 2008. PerawatanIbuHamil. Yogyakarta: Fitramaya.

















Selasa, 19 April 2016

ANEMIA BUMIL BY SUCI AR



ANEMIA PADA IBU HAMIL
PAnemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Anemia dalam kehamilan yang disebabkan karena kekurangan zat besi, jenis pengobatannya relatif mudah, bahkan murah.
Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2002). Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan
Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin, 2002). Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut:
1.Kurang gizi( malnutrisi)
2. Kurang zat besi dalam diit
3. Malabsorpsi
4. Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
5. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain
GEJALA ANEMIA PADA IBU HAMIL
Gejala anemia pada kehamilan yaitu ibu mengeluh cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, nafas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.
KLASIFIKASI ANEMIA DALAM KEHAMILAN.
Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah sebagai berikut:
1. Anemia Defisiensi Besi
Adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannya yaitu, keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi.
a. Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).
b. Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral, dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua (Wiknjosastro, 2002). Pemberian preparat parenteral dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau 2 x 10 ml/ IM pada gluteus, dapat meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr% (Manuaba, 2001).
Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa. Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sachli, dilakukan minimal 2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Hb 11 gr% : Tidak anemia
2. Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
3. Hb 7 – 8 gr%: Anemia sedang
4. Hb < 7 gr% : Anemia berat
Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekatai 800 mg. Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 8–10 mg zat besi. Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar 20–25 mg zat besi perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).
2. Anemia Megaloblastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena kekurangan vitamin B12.
Pengobatannya:
a. Asam folik 15 – 30 mg per hari
b. Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
c. Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
d. Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah.
3. Anemia Hipoplastik
Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah baru. Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya adalah darah tepi lengkap, pemeriksaan pungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosi.
4. Anemia Hemolitik
Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ vital.
Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. Bila disebabkan oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga transfusi darah berulang dapat membantu penderita ini.
EFEK ANEMIA PADA IBU HAMIL, BERSALIN DAN NIFAS
Anemia dapat terjadi pada setiap ibu hamil, karena itulah kejadian ini harus selalu diwaspadai. Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan: Abortus, Missed Abortus dan kelainan kongenital. Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan: Persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia aintrauterin sampai kematian, BBLR, gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan bisa mengakibatkan kematian. Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan gangguan his baik primer maupun sekunder, janin akan lahir dengan anemia, dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. Saat post partum anemia dapat menyebabkan: tonia uteri, rtensio placenta, pelukaan sukar sembuh, mudah terjadi febris puerpuralis dan gangguan involusio uteri.
PATOFISIOLOGI ANEMIA PADA KEHAMILAN
          Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia.  Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah.  Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%.  Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2002).  Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan.2
Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang makin meningkat terhadap plasenta dari pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai pada trimester ke II kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke 9 dan meningkatnya sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterem serta kembali normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasenta, yang menyebabkan peningkatan sekresi aldesteron.1
 ETIOLOGI ANEMIA PADA KEHAMILAN1
          Etiologi anemia defisiensi besi pada kehamilan, yaitu :
  1. Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah
  2. Pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma
  3. Kurangnya zat besi dalam makanan
  4. Kebutuhan zat besi meningkat
  5. Gangguan pencernaan dan absorbsi

Pada ibu hamil, beberapa faktor risiko yang berperan dalam meningkatkan prevalensi anemia defisiensi zat besi, antara lain :
  1. Umur ibu < 20 tahun dan > 35 tahun. Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil. Karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia. Wintrobe (1987) menyatakan bahwa usia ibu dapat mempengaruhi timbulnya anemia, yaitu semakin rendah usia ibu hamil maka semakin rendah kadar hemoglobinnya. Muhilal et al (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat kecendrungan semakin tua umur ibu hamil maka presentasi anemia semakin besar
  2. Pendarahan akut
  3. Pendidikan rendah
  4. Pekerja berat
  5. Konsumsi tablet tambah darah < 90 butir
  6. Makan < 3 kali dan kurang mengandung zat besi.
 DAMPAK ANEMIA DEFISIENSI BESI PADA IBU HAMIL
          Anemia pada ibu hamil bukan tanpa risiko. Menurut penelitian, tingginya angka kematian ibu berkaitan erat dengan anemia. Anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan jasmani karena sel-sel tubuh tidak cukup mendapat pasokan oksigen. Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah.  Soeprono menyebutkan bahwa dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan (abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atoni), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infek­si dan stress kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian peri­natal, dan lain-lain).1
 FUNGSI Fe/ZAT BESI  
          Zat besi adalah mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin). Selain itu, mineral ini juga berperan sebagai komponen untuk membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat di tulang, tulang rawan, dan jaringan penyambung), serta enzim. Zat besi juga berfungsi dalam sistim pertahanan tubuh.3
 KEBUTUHAN Fe/ZAT BESI PADA MASA KEHAMILAN
          Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekati 800 mg.  Kebutuhan ini terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal.  Kurang lebih 200 mg lebih akan dieksresikan lewat usus, urin dan kulit.  Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan menghasilkan sekitar 8–10 mg zat besi.  Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan menghasilkan sekitar 20–25 mg zat besi perhari.  Selama kehamilan dengan perhitungan 288 hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi masih kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).2
Sumber lain mengatakan, kebutuhan ibu hamil akan Fe meningkat (untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah) sebesar 200-300%. Perkiraan besaran zat besi yang perlu ditimbun selama hamil ialah 1040 mg. Dari jumlah ini, 200 mg Fe tertahan oleh tubuh ketika melahirkan dan 840 mg sisanya hilang. Sebanyak 300 mg Fe ditransfer ke janin, dengan 50-75 mg untuk pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah darah merah, dan 200 mg lenyap ketika melahirkan.4
Besarnya angka kejadia anemia ibu hamil pada trimester I kehamilan adalah 20%, trimester II sebesar 70%, dan trimester III sebesar 70%. 4Hal ini disebabkan karena pada trimester pertama kehamilan, zat besi yang dibutuhkan sedikit karena tidak terjadi menstruasi dan pertumbuhan janin masih lambat. Menginjak trimester kedua hingga ketiga, volume darah dalam tubuh wanita akan meningkat sampai 35%, ini ekuivalen dengan 450 mg zat besi untuk memproduksi sel-sel darah merah. Sel darah merah harus mengangkut oksigen lebih banyak untuk janin. Sedangkan saat melahirkan, perlu tambahan besi 300 – 350 mg akibat kehilangan darah. Sampai saat melahirkan, wanita hamil butuh zat besi sekitar 40 mg per hari atau dua kali lipat kebutuhan kondisi tidak hamil.1
Penyerapan besi dipengaruhi oleh banyak faktor. Protein hewani dan vitamin C meningkatkan penyerapan. Kopi, teh, garam kalsium, magnesium dan fitat dapat mengikat Fe sehingga mengurangi jumlah serapan. Karena itu sebaiknya tablet Fe ditelan bersamaan dengan makanan yang dapat memperbanyak jumlah serapan, sementara makanan yang mengikat Fe sebaiknya dihindarkan, atau tidak dimakan dalam waktu bersamaan. Disamping itu, penting pula diingat, tambahan besi sebaiknya diperoleh dari makanan, karena tablet Fe terbukti dapat menurunkan kadar seng dalam serum.4
 PEMBERIAN TABLET Fe UNTUK MENCEGAH ANEMIA DALAM KEHAMILAN
Memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat  atau Na-fero bisirat.  Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr%/ bulan.  Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).2
 PENELITIAN PEMBERIAN ASUPAN 90 TABLET BESI PADA IBU HAMIL DI UNIVERSITAS UDAYANA
Tujuan
          Untuk mengetahui efek 90 tablet suplemen besi setara 60 mg elemen besi dan 0,25 mg asam folat  pertablet saat hamil terhadap kejadian anemia dan status besi pada ibu hamil.

Materi dan Metode
          Suatu pelitian quasi-experimental dengan rancangan pretest-posttest dilakukan pada 65 ibu hamil dengan umur kehamilan kurang dari 24 minggu, tidak memiliki riwayat hemorhoid, batuk darah, tukang lambung dan penyakit darah lainnya di wilayah puskesmas Abiansemal Badung. Bahan perlakuan berupa tablet besi dengan kandungan 200 mg Ferus Sulfat (setara dengan 60 mg elemen besi) dan 0,25 mg asam folat. Tablet besi diberikan dengan dosis satu tablet perhari dan diberikan selama 13 minggu. Kadar Hb, MCV, MCH, dan MCHC diukur dua kali yaitu sebelum dan sesudah perlakuan. Perbedaan proporsi anemia, kadar MCV < 80 mm3, MCH < 27 pg/sel, dan MCHC < 30 g/dl antara sebelum dan sesudah perlakuan diuji dengan uji t dan uji Z dengan tingkat kemaknaan 5%.
Hasil
Sekitar 76,93% ibu hamil mengalami defisiensi besi dengan MCH < 27 pg/sel dan 35,28% menderita anemia (Hb < 11 g/dl) sebelum diberikan suplemen besi. Setelah diberikan suplemen besi sebanyak 90 tablet selama 13 minggu, ibu hamil dengan MCH < 27 pg/sel menurun dari 76,93% menjadi 27,43% dan kejadian anemia menurun dari 35,28% menjadi 9,35%. Secara kuantitatif, rerata Hb, MCH dan MCH juga meningkat secara bermakna (p < 0,05) setelah mendapat suplemen besi, sebaliknya MCV tidak berubah (p > 0,05). Akan tetapi, pada akhir perlakuan masih terdapat sekitar 27% ibu hamil mengalami defisiensi besi dan 9% masih anemia.
















KESIMPULAN

1.      Kejadian anemia pada ibu hamil harus selalu diwaspadai mengingat anemia dapat meningkatkan risiko kematian ibu, angka prematuritas, BBLR dan angka kematian bayi. Untuk mengenali kejadian anemia pada kehamilan, seorang ibu harus mengetahui gejala anemia pada ibu hamil, yaitu cepat lelah, sering pusing.
2.        Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa lebih dari ¾ ibu hamil mengalami defisiensi besi dan lebih dari 1/3 mengalami anemia. Pemberian suplemen besi setara 60 mg elemen besi dan 0,25 mg asam folat per hari selama 13 minggu dapat menurunkan angka amenia serta meningkatkan status besi ibu hamil, tetapi 1/3 dari mereka masih menderita defisiensi besi dan 9% masih anemia. Oleh kerena itu, adalah sangat penting memberikan asupan besi sejak masa pre-maternal supaya cadangan besi pada saat hamil cukup memadai.











TERIMA KASIH!!!!!!!!!
SEMOGA BERMANFAAT JJ