KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
kesempatan dan kesehatan kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan tugas makalah ini. Dan tidak lupa pula kami panjatkan syukur kami
kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kami dari alam kebodohan menjadi
alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Tak lupa pula
kami ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing kami, Ibu Sukapti, S.Farm.,Apt yang telah memberikan ilmu dalam mata kuliah ini.
Dalam
makalah Farmakologi ini kami
membahas tugas mengenai Obat
Analgetik A ntipiretik “Paracetamol”. Kami selaku penyusun makalah ini berharap
supaya makalah ini dapat bermanfaat dan dapat
dipergunakan dengan baik dalam
perkuliahan.
Kami
menyadari bahwa makalah ini belumlah sangat sempurna oleh karena itu kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca
supaya makalah ini bisa menjadi lebih baik.
Padang,November 2015
Kelompok 1
i
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR……………………………………………………………...………i
DAFTAR
ISI………………………………………………………………………..……...ii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang…………………………………………………………………….…….1
1.2
Rumusan
Masalah……………………………………………………………………….1
1.3
Tujuan Penulisan……………………………………………………………….………..1
BAB
II TINJAUAN TEORI
2.1 Analgetik …………………………………………………………………………..…..2
2.1.1
Definisi Analgetik ……………………………………………………………………2
2.1.2
Pembagian
Analgetik………………………………………………………………..2
2.2
Antipiretik……………………………………………………………………………....4
2.2.1 Definisi
Antipiretik…………………………………………………………………....4
2.3 Cara Kerja dari Analgetik
Antipiretik…………………………………………………..4
BAB III
APLIKASI TEORI
3.1 Pengertian Parasetamol………………………………………………………………..….6
3.2 Sejarah Parasetamol………………………………………………………………………6
3.3 Struktur Kimia
Parasetamol………....................................................................................7
3.3.1 Sifat Zat Berkhasiat …………………………………………………………………..7
3.3.2
Sifat Fisika……………………………………………………………………………...7
3.3.3
Farmakokinetik……………………………………………………………………….....8
3.3.4
Farmakodinamik………………………………………………………………………...8
3.4
Indikasi………………………………………………………………………....................8
3.5
Kontraindikasi……………………………………………………………………….........8
3.6
Sediaan dan Posologi……………………………………………………………………..8
3.7 Dampak
Parasetamol……………………………………………………………………..9.
BAB IV PENUTUP
4.1
Kesimpulan……………………………………………………………………….............11
4.2
Saran……………………………………………………………………….......................11
DAFTAR PUSTAKA
………………………………………………………………………...iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di
zaman sekarang ini semakin tidak menentunya cuaca atau iklim di negara
Indonesia maupun di negara-negara lain merupakan akibat dari tingkah laku dan
perbuatan manusia. Mulai dari penebangan hutan yang merajalela sampai pola
hidup yang tidak baik. Seiring dengan musim yang berjalan dengan tidak menentu
sehingga menyebabkan seseorang mudah sakit. Di era sekarang obat- obatan banyak
dijual bebas di apotik dan toko obat, sehingga banyak dari kita sering
menggunakan obat-obatan tanpa pengawasan dokter. Penggunaan obat yang tidak
sesuai dengan aturan atau petunjuk dokter sangat berbahaya bagi tubuh akibat
atau efeknya bisa langsung kelihatan dan bahkan mungkin baru beberapa tahun ke
depan.
Setiap
orang tentunya pernah merasakan rasa nyeri. Mulai dari nyeri ringan seperti
sakit kepala, nyeri punggung, nyeri haid, reumatik dan lain-lain seperti nyeri
yang berat. Obat nyeri itu dinamakan obat analgesik. Analgesik yang sering
digunakan salah satunya adalah parasetamol. Selain sebagai analgesik,
parasetamol juga dapat digunakan untuk obat antipirek (demam). Parasetamol
banyak digunakan karena disamping harganya murah, parasetamol adalah anti nyeri
yang aman untuk swamedikasi (pengobatan mandiri.
Parasetamol
adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual secara bebas. Indikasi
parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri otot sementara, sakit menjelang
menstruasi, dan diindikasikan juga untuk demam. Parasetamol itu aman terhadap lambung
juga merupakan Analgesik pilihan untuk ibu hamil maupun menyusui. Tapi bukan
berarti parasetamol tidak mempunyai efek samping. Efek samping parasetamol
berdampak ke liver atau hati. Parasetamol bersifat toksik di hati jika
digunakan dalam dosis besar.
Parasetamol
(Asetaminofen) merupakan senyawa organik yang banyak digunakan dalam obat sakit
kepala karena bersifat analgesik (menghilangkan sakit), sengal-sengal, sakit
ringan, dan demam. Parasetamol digunakan dalam sebagian besar resep obat
analgesik salesma dan flu. Untuk mengetahui lebih jelasnya tentang parasetamol,
kita akan membahas mengenai apa pengertian parasetamol, apa saja kegunaan atau
manfaat dari parasetamol serta dampak atau efek samping parasetamol yang
tidak sesuai dengan dosis.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan Analgetik antipiretik?
1.2.2 Bagaimana cara kerja dari analgetik antipiretik?
1.2.3 Apa sajakah macam-macam dari
analgetik antipiretik?
1.2.4 Apakah kegunaan dari obat analgetik, antipiretik dan
antiinflamasi?
1.2.5 Apa sajakah
contoh dari obat analgetik antipiretik
serta penjelasannya?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui apa yang dimakasud dengan analgetik
antipiretik
1.3.2 Untuk mengetahui cara kerja analgetik antipiretik
1.3.3 Untuk mengetahui kegunaan analgetik antipiretik
1.3.4 Untuk mengetahui contoh dari obat analgetik
antipiretik
1
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
2.1 Analgetik
2.1.1 Definisi Analgetik
Analgetik
atau obat-obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau melenyapkan
rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
- Penyebab sakit/ nyeri.
Didalam lokasi jaringan yang
mengalami luka atau peradangan beberapa bahan algesiogenic kimia diproduksi dan
dilepaskan, didalamnya terkandung dalam prostaglandin dan brodikinin.
Brodikinin sendiri adalah perangsang reseptor rasa nyeri. Sedangkan
prostaglandin ada 2 yang pertama Hiperalgesia yang dapat menimbulkan nyeri dan
PG(E1, E2, F2A) yang dapat menimbulkan efek algesiogenic.
- Mekanisme:
Menghambat sintase PGS di tempat
yang sakit/trauma jaringan.
- Karakteristik:
1. Hanya efektif untuk menyembuhkan
sakit
2. Tidak narkotika
dan tidak menimbulkan rasa senang dan gembira
3. Tidak
mempengaruhi pernapasan
4. Gunanya
untuk nyeri sedang, ex: sakit gigi
2.1.2 Analgesik di bagi menjadi 2
yaitu:
1. Analgesik
Opioid/analgesik narkotika
Analgesik
opioid merupakan kelompok obat yang memilikisifat-sifat seperti opium atau
morfin. Golongan obat ini digunakan untuk meredakan atau
menghilangkan rasa nyeri seperti pada fractura dan kanker.
Macam-macam obat Analgesik Opioid:
- Metadon.
- Fentanil.
- Kodein
2
2. Obat Analgetik Non-narkotik
Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga
sering dikenal dengan istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer.
Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak
bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Penggunaan Obat Analgetik
Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau
meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau
bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik /
Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada
pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat analgetik jenis
analgetik narkotik).Efek samping
obat-pbat analgesik perifer: kerusakan lambung, kerusakan darah, kerusakan hati
dan ginjal, kerusakan kulit.
Macam-macam obat Analgesik
Non-Narkotik:
a. Ibupropen
b.
Paracetamol/acetaminophen
c. Asam Mefenamat
Biasanya analgesik di golongkan menjadi beberapa kelompok,
antara lain:
1. Analgesik – Antipiretik Contoh
parasetamol, fenasetin
2. Analgesik – AntiInflamasi contoh
ibuprofen, asam mefenamat
3. Analgesik – Antiinflamasi kuat
contoh Aspirin, Natrium Salisilat
Selain digolongkan berdasarkan efeknya, analgesik juga di
golongkan berdasar tempat kerjanya. Penggolongan ini membedakan analgesik menjadi:
1. Analgesik Sentral
Yaitu analgesik yang menduduki
reseptor miu contohnya tramadol, morphine
2. Analgesik Perifer
Yaitu analgesik yang bekerja pada
saraf perifer contohnya parasetamol
Atas kerja farmakologisnya, analgesic dibagi dalam dua
kelompok besar, yaitu:
1. Analgetik Perifer (non narkotik)
Terdiri dari obat-obat yang tidak
bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
2. Analgetik Narkotik
Khusus digunakan untuk menghalau
rasa nyeri hebat, seperti fraktur dan kanker.
Berikut jenis obat analgetik
narkotik :
a. Morfin dan derivatnya :
ü Morfin
ü Heroin
ü Hidromorfon
ü Oksimorfon
3
ü Levorfanol
ü Levalorfan
ü Kodein
ü Hidrokodon
ü Oksikodon
ü Nalorfin
ü Nalokson
ü Nalbufin
ü Tebain
b. Meperidin dan derifat
fenilpiperidin :
ü Meperidin
ü Alfaprodin
ü DifenoksilatFentanil
ü Loperami
ü Metadon Dan Opioid lainx :
ü Metadon
ü Propoksifen
ü Dekstromoramida
ü
Bezitramida
2.2 Antipiretik
2.2.1 Definisi Antipiretik
Obat antipiretik adalah obat untuk menurunkan panas.
Hanya menurunkan temperatur tubuh saat panas tidak berefektif pada orang
normal. Dapat menurunkan panas karena dapat menghambat prostatglandin pada CNS.
Macam-macam obat Antipiretik:
1. Benorylate
2.
Fentanyl
3. Piralozon
2.3 Cara
Kerja dari Analgetik Antipiretik
Umumnya cara
kerja analgetik-antipiretik adalah dengan menghambat sintesa neurotransmitter
tertentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam. Dengan blokade sintesa
neurotransmitter tersebut, maka otak tidak lagi mendapatkan "sinyal"
nyeri,sehingga rasa nyerinya berangsur-angsur menghilang.
4
Rasa nyeri
hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya
gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot.
Rasa nyeri disebabkan rangsang mekanis atau kimiawi, kalor atau listrik, yang
dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yan disebut mediator
nyeri (pengantara). Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung
syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini
rangang dialaihkan melalui syaraf sensoris ke susunan syaraf pusat (SSP),
melalui sumsum tulang belakang ke talamus (optikus) kemudian ke pusat nyeri
dalam otak besar, dimana rangsang terasa sebagai nyeri.
5
BAB III
APLIKASI TEORI
3.1. Pengertian Parasetamol
Parasetamol
(asetaminofen) merupakan obat analgetik non narkotik dengan cara kerja
menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP) .
Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara baik dalam bentuk sediaan tunggal
sebagai analgetik-antipiretik maupun kombinasi dengan obat lain dalam sediaan
obat flu, melalui resep dokter atau yang dijual bebas. (Lusiana Darsono 2002)
Parasetamol
adalah paraaminofenol yang merupakan metabolit fenasetin dan telah digunakan
sejak tahun 1893 (Wilmana, 1995). Parasetamol (asetaminofen)
mempunyai dayakerja analgetik,
antipiretik, tidak mempunyai daya kerja anti radang dan tidak menyebabkan
iritasi serta peradangan lambung (Sartono,1993).
Hal
ini disebabkan Parasetamol bekerja pada tempat yang tidak terdapat peroksid
sedangkan pada tempat inflamasi terdapat lekosit yang melepaskan peroksid
sehingga efek anti inflamasinya tidak bermakna. Parasetamol berguna untuk nyeri
ringan sampai sedang, seperti nyeri kepala, mialgia, nyeri paska melahirkan dan
keadaan lain (Katzung, 2011)
Parasetamol,
mempunyai daya kerja analgetik dan antipiretik sama dengan asetosal, meskipun
secara kimia tidak berkaitan.Tidak seperti Asetosal, Parasetamol tidak
mempunyai daya kerja antiradang, dan tidak menimbulkan iritasi dan
pendarahan lambung. Sebagai obat
antipiretika, dapat digunakan baik Asetosal, Salsilamid maupun Parasetamol.
Diantara
ketiga obat tersebut, Parasetamol mempunyai efek samping yang paling ringan dan
aman untuk anak-anak. Untuk anak-anak di bawah umur dua tahun sebaiknya
digunakan Parasetamol, kecuali ada pertimbangan khusus lainnya dari
dokter. Dari penelitian pada
anak-anak dapat diketahui bahawa kombinasi Asetosal dengan Parasetamol bekerja
lebih efektif terhadap demam daripada jika diberikan sendiri-sendiri. (Sartono
1996)
3.2 Sejarah Parasetamol
Pada
tahun 1946, Lembaga Studi Analgetik dan obat-obatan sedative telah memberi bantuan
kepada Departemen Kesehatan New York untuk mengkaji masalah yang berkaitan
dengan agen analgetik. Bernard Brodie dan Julius Axelrod telah ditugaskan untuk
mengkaji mengapa agen bukan aspirin dikaitkan dengan adanya methemoglobinemia,
sejenis keadaan darah tidak berbahaya.(Yulida.A.N. 2009)
Di
dalam tulisan mereka pada 1948, Brodie dan Axelrod mengaitkan penggunaan
asetanilida dengan methemoglobinemia, dan mendapati pengaruh
analgetik asetanilida adalah disebabkan
metabolit Parasetamol aktif. Mereka membela
6
penggunaan Parasetamol karena
memandang bahan kimia ini tidak mengahasilkan racun asetanilida.(Yulida.A.N.
2009)
Derivat-
asetanilida ini adalah metabolit dari fenasetin, yang dahulu banyak digunakan
sebagai analgetik, tetapi pada tahun 1978 telah ditarik dari peredaran karena
efek sampingnya (nefrotoksisitas dan karsinogen). Khasiatnya analgetik dan
antipiretik, tetapi tidak antiradang. Dewasa ini pada umumnya dianggap sebagai
zat antinyeri yang paling aman, juga untuk swamedikasi(pengobatan mandiri).
Efek
analgetiknya diperkuat oleh kafein
dengan kira-kira 50% dan kodein. Resorpsinya dari usus cepat dan praktis
tuntas, secara rectal lebih lambat. Efek samping tak jarang
terjadi, antara lain reaksi
hipersensitivitas dan kelainan darah. (Yulida.A.N. 2009)
Overdosis
bisa menimbulkan mual, muntah dan anoreksia.
Penanggulangannya dengan cuci
lambung, juga perlu diberikan zat-zat penawar (asam amino N-asetilsistein atau
metionin) sedini mungkin, sebaiknya dalam 8-10 jam setelah intoksikasi. Wanita
hamil dapat menggunakan Parasetamol dengan aman, juga selama laktasi walaupun
mencapai air susu ibu. Interaksi pada dosis tinggi
memperkuat efek antikoagulansia, dan
pada dosis biasa tidak interaktif.(Tjay, 2002)
3.3 Struktur Kimia Parasetamol

3.3.1 Sifat Zat Berkhasiat
Menurut Dirjen POM. (1995),
sifat-sifat Parasetamol adalah sebagai berikut:
Sinonim : 4-Hidroksiasetanilida
Berat Molekul : 151.16
Rumus Empiris : C8H9NO2.
3.3.2 Sifat Fisika
Pemerian :
Serbuk hablur, putih, tidak berbau,
rasa sedikit pahit.
Kelarutan : larut dalam air mendidih
dan dalam NaOH 1N; mudah larut
dalam etanol.
Jarak lebur : Antara 168⁰dan 172⁰
3.3.3 Farmakokinetik
Parasetamol
cepat diabsorbsi dari saluran pencernaan, dengan kadar serum puncak dicapai
dalam 30-60 menit. Waktu paruh kira-kira 2 jam. Metabolisme di hati, sekitar 3
% diekskresi dalam bentuk tidak berubah melalui urin dan 80-90 % dikonjugasi
dengan asam
7
glukoronik atau asam sulfurik
kemudian diekskresi melalui urin dalam satu hari pertama; sebagian
dihidroksilasi menjadi N asetil benzokuinon yang sangat reaktif dan berpotensi
menjadi
metabolit berbahaya. Pada dosis normal
bereaksi dengan gugus sulfhidril dari glutation menjadi substansi nontoksik.
Pada dosis besar akan berikatan dengan sulfhidril dari protein hati.(Lusiana
Darsono 2002)
3.3.4 Farmakodinamik
Efek
analgesik Parasetamol dan Fenasetin serupa dengan Salisilat yaitu menghilangkan
atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh
dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Efek
antiinflamasinyasangat lemah, oleh karena itu Parasetamol dan Fenasetin tidak
digunakan sebagai antireumatik. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis
prostaglandin (PG) yang lemah. Efek iritasi, erosi dan perdarahan lambung tidak
terlihat pada kedua obat ini, demikian juga gangguan pernapasan dan
keseimbangan asam basa.(Mahar Mardjono 1971) Semua obat analgetik non opioid
bekerja melalui penghambatan siklooksigenase. Parasetamol menghambat
siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat menjadi prostaglandin terganggu.
Setiap obat menghambat siklooksigenase secara berbeda. Parasetamol menghambat
siklooksigenase pusat lebih kuat dari pada aspirin, inilah yang menyebabkan
Parasetamol menjadi obat antipiretik yang kuat melalui efek pada pusat
pengaturan panas. Parasetamol hanya mempunyai efek ringan pada siklooksigenase
perifer. Inilah yang menyebabkan Parasetamol hanya menghilangkan atau
mengurangi rasa nyeri ringan sampai sedang.
Parasetamol
tidak mempengaruhi nyeri yang ditimbulkan efek langsung prostaglandin, ini
menunjukkan bahwa parasetamol menghambat sintesa prostaglandin dan bukan
blokade langsung prostaglandin. Obat ini menekan efek zat pirogen endogen
dengan menghambat sintesa prostaglandin, tetapi demam yang ditimbulkan akibat
pemberian prostaglandin tidak dipengaruhi, demikian pula peningkatan suhu oleh
sebab lain, seperti latihan fisik. (Aris 2009)
3.4 Indikasi
Parasetamol
merupakan pilihan lini pertama bagi penanganan demam dan nyeri sebagai
antipiretik dan analgetik. Parasetamol digunakan bagi nyeri yang ringan sampai
sedang.(Cranswick 2000)
3.5 Kontra Indikasi
Penderita
gangguan fungsi hati yang berat dan penderita hipersensitif
terhadap obat ini. (Yulida 2009)
3.6 Sediaan dan Posologi
Parasetamol
tersedi sebagai obat tunggal, berbentuk tablet 500mg atau sirup
yang mengandung 120mg/5ml. Selain
itu Parasetamol terdapat sebagai sediaan
kombinasi tetap, dalam bentuk tablet
maupun cairan. Dosis Parasetamol untuk
8
3.7 Dampak Penggunaan Paracetamol
Parasetamol
memang manjur menghilangkan sakit kepala atau pusing, demam. Tetapi dibalik
keampuhannya tersebut, ternyata parasetamol menyimpan bahaya yang cukup besar
yakni dapat menurunkan fungsi
paru-paru, merusak ginjal dan dapat mengakibatkan asthma, bronchitis. Hampir
setiap obat sakit kepala dan demam yang dijual secara bebas pasti mengandung
parasetamol, hanya saja kadarnya yang berbeda. Parasetamol boleh dikonsumsi 5
hari untuk anak-anak dan 10 hari untuk dewasa dengan dosis seperti dibawah ini.
|
Umur
|
Dosis Parasetamol
|
|
3 bulan – 1 tahun
|
60 – 120 mg
|
|
1 – 5 tahun
|
120 – 250 mg
|
|
6 – 12 tahun
|
250 – 500 mg
|
|
Dewasa
|
500 mg – 1 g
|
Meski
demikian, penggunaan obat secara rutin atau berlebihan dapat menganggu
kesehatan apalagi bagi penderita penyakit asma, dan penyakit paru-paru
obstruktif menahun atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD) karena
apabila obat ini digunakan setiap hari maka dapat menyebabkan penurunan fungsi
paru-paru. Hasil ini berdasarkan data survei yang dikumpulkan oleh “Third
National Health and Nutrition Examination Survey” dari tahun 1988-1994 pada
sekitar 13.500 orang dewasa di Amerika Serikat. Mereka semua memberikan
informasi akan obat yang dipakai yaitu Aspirin Parasetamol dan Ibuprofen.
Dosis
tinggi dari Parasetamol akan menurunkan kadar dari salah satu antioksidan yang
penting, yaitu Glutathion, yang ada pada jaringan paru. Jadi, kemungkinan
gangguan paru yang terjadi akibat pemakaian rutin Parasetamol disebabkan karena
terjadi penurunan Glutathion, yang menyebabkan peningkatan resiko dari
kerusakan jaringan paru dan peningkatan dari penyakit pernafasan. Over dosis
dari parasetamol dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Efek samping yang
ditimbulkan adalah methemoglobin dan hepatotoksik.
Takar
lajak asetaminofen dapat menjadi sangat toksik dan berbahaya terhadap sel-sel
hati yang menimbulkan hepatotoksisitas. Jika dosis tunggal 10 gram atau 30
tablet masing-masing (325 mg). Asetaminofen atau parasetamol yang diminum
berlebihan memicu timbulnya kerusakan di hepar.
Overdosis
dari asetaminofen atau parasetamol dapat menyebabkan kematian. Overdosis dari
parasetamol misalnya jika terdapat gejala mual, muntah, lemas dan keringat
berlebih. Dan kematian dapat terjadi dalam waktu 1-4 hari setelah mengkonsumsi
asetaminofen atau parasetamol yang berlebih karena timbulnya nekrosis hati.
Jika seorang anak memakan tablet atau sirup asetaminofen dalam jumlah yang
berlebihan maka anak tersebut harus segera dibawa ke ruang gawat darurat sebab
hal ini dapat mengakibatkan gangguan kronis di hepar.
Penggunaan paracetamol terus menerus
dapat menyebabkan overdosis dan keracunan. Keracunan parasetamol disebabkan
karena akumulasi dari salah satu metabolitnya yaitu N-acetyl-p-benzoquinoneimine
(NAPQI), yang dapat terjadi karena overdosis, pada pasien malnutrisi, atau
pada peminum alkohol kronik. Keracunan parasetamol biasanya terbagi dalam 4
fase, yaitu:
9
Fase 1
Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, perasaan tak menentu
pada tubuh yang tak nyaman (malaise) dan banyak mengeluarkan keringat.
Fase 2
Pembesaran liver, peningkatan bilirubin dan konsentrasi
enzim hepatik, waktu yang dibutuhkan untuk pembekuan darah menjadi bertambah
lama dan kadang-kadang terjadi penurunan volume urin.
Fase 3
Berulangnya kejadian pada fase 1 (biasanya 3-5 hari setelah
munculnya gejala awal) serta terlihat gejala awal gagal hati seperti pasien
tampak kuning karena terjadinya penumpukan pigmen empedu di kulit, membran
mukosa dan dan sklera (jaundice), hipoglikemia, kelainan pembekuan
darah, dan penyakit degeneratif pada otak (encephalopathy). Pada fase
ini juga mungkin terjadi gagal ginjal dan berkembangnya penyakit yang terjadi
pada jantung (cardiomyopathy)
Fase 4
Penyembuhan atau berkembang menuju gagal hati yang fatal
Overdosis yang tak dapat penanganan
cepat dapat menyebabkan kegagalan liver dan kematian. Parasetamol jika diminum
dalam dosis sangat besar, dapat menyebabkan kerusakan di hati dan ginjal. Oleh
karena itu, sebaiknya dijauhkan dari jangkauan anak-anak
Beberapa
poin penting yang perlu dicermati dalam penggunaan paracetamol :
- Hentikan penggunaan parasetamol bila demam berlangsung lebih
dari 3 hari atau nyeri semakin memburuk lebih dari 10 hari, kecuali atas saran
dokter.
- Bagi ibu hamil dan menyusui, konsultsikan dengan dokter jika
hendak menggunakan obat ini.
- Orang dengan penyakit gangguan liver sebaiknya tidak
menggunakan obat ini.
- Konsultasikan dengan dokter sebelum mengkombinasi
parasetamol dengan obat-obat NSAID, antikoagulan (warfarin), ataupun
kontrasepsi oral.
- Penggunaan parasetamol bersama alkohol dpat meningkatkan
toksisitas hati.
- Konsumsi vitamin C dosis tinggi dapat meningkatkan kadar
parasetamol dalam tubu
10
BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Analgetik yaitu obat anti nyeri. Mekanisame kerja menghambat
sintase PGS di tempat yang sakit/trauma jaringan.
Karakteristik :
Karakteristik :
1. Hanya efektif untuk menyembuhkan
sakit
2. Tidak narkotika
dan tidak menimbulkan rasa senang dan gembira
3. Tidak
mempengaruhi pernapasan
4. Gunanya untuk
nyeri sedang, contohnya: sakit gigi
Macam - macam
Analgetik :
1. Analgetik
Opioid/analgetik narkotika
2. Obat Analgetik
Non-narkotik
Parasetamol
merupakan senyawa kimia organik yang banyak digunakan dalam obat sakit kepala
karena bersifat analgesik (menghilangkan sakit). Parasetamol atau
4-hidroksiasetanilida dengan rumus molekul dan bobot molekul 152.16.
Parasetamol sebagai obat penurun panas sekaligus pereda nyeri. Parasetamol bisa
digunakan untuk demam dan sakit seperti sakit gigi, sakit lambung, dan
sebagainya. Parasetamol ini lebih aman bagi lambung sehingga cocok bagi
penderita maag atau gastritis. Tetapi dibalik keampuhannya tersebut,
parasetamol memiliki bahaya yang cukup besar yakni dapat menurunkan fungsi
paru-paru, merusak ginjal dan dapat mengakibatkan asthma, bronchitis. Selain
itu, Overdosis dari asetaminofen atau parasetamol dapat menyebabkan kematian.
Dan kematian itu dapat terjadi dalam waktu 1-4 hari setelah mengkonsumsi
asetaminofen atau parasetamol yang berlebih karena timbulnya nekrosis hati.
4.2 SARAN
Selesainya makalah ini tidak
terlepas dari banyaknya kekurangan-kekurangan pembahasannya dikarenakan oleh
berbagai macam faktor keterbatasan waktu waktu, pemikiran dan pengetahuan kami
yang terbatas, oleh karena itu untuk kesempernuan makalah ini kami sangat
membutuhkan saran-saran dan masukan yang
bersifat membangun kepada semua pembaca.
Sebaiknya gunakanlah obat sesuai
anjuran dokter, dan pergunakan lah obat tersebut sesuai dengan penyakit yang
diderita , jangan menggunakan obat kurang atau melebihi batasnya.
1. Bagi Pengguna Parsetamol
Para pengguna parasetamol diharapkan
untuk menggunakan dosis tepat, tidak berlebihan, bila dosis berlebihan dapat
menimbulkan gangguan fungsi hati dan ginjal. Pengguna setia parasetamol
diharapkan untuk mengurangi ketergantungannya dalam
11
mengkonsumsi parasetamol agar tidak menimbulkan efek yang
berlebih seperti dapat menurunkan fungsi paru-paru, merusak ginjal dan dapat
mengakibatkan asthma, bronchitis, serta dapat menyebabkan kematian.
2. Bagi Orang Tua
Orang tua diharapkan menjaga serta
menyimpan parasetamol atau asetaminofen agar jauh dari jangkauan anak-anak. Dan
orang tua di harapkan memberikan obat parasetamol sesuai dengan dosis dan
berlebihan.
12
DAFTAR PUSTAKA
Chairns, Donald. 2004. Intisari
Kimia Farmasi Edisi 2. Jakarta : EGC
Drs.Priyanto, Apt, M. Biomed. 2008. Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa Farmasi
Gunawan.G.Sulistia. 2007. Farmakologi dan Terapi. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta
Keperawatan. Liskonfi. Jawa Barat
Ikawati, Zullies . 2010. Cerdas
Mengenali Obat. Yogyakarta: Kanisius.
Joyce, L. Ke. 2005. Farmakologi
Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC
Nana Sutresna. 2007. Cerdas
Belajar Kimia. Bandung : Grafindo Media Pratama.
Neil, M. J. 2005 . At A Glance
Farmakologi Medis Edisi Kelima. Jakarta: EMS
Tan dan Kirana Rahardja. 2010.Obat-obat
Sederhana untuk Gangguan Sehari-hari. Jakarta: PT. Elex Media
Komputindo
MAKALAH FARMAKOLOGI
ANALGETIK-ANTIPIRETIK
“PARASETAMOL”

OLEH
KELOMPOK 1
II B
1. Andina Bunga Syafel
2. Dian Diana
3. Fanida Norisan Fajrin
4. Mutiara Angreini Zen
5. Rima Julita
6. Suci Aulia Rahmi
DOSEN PEMBIMBING
Dra. Sukapti Apt
PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
TAHUN AJARAN 2015 / 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar