Selasa, 31 Mei 2016

Obat Analgetik A ntipiretik “Paracetamol”

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur  kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan tugas makalah ini. Dan tidak lupa pula kami panjatkan syukur kami kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kami dari alam kebodohan menjadi alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Tak lupa pula kami ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing kami, Ibu Sukapti, S.Farm.,Apt yang telah memberikan ilmu dalam mata kuliah ini.
Dalam makalah Farmakologi ini kami membahas tugas mengenai Obat Analgetik A ntipiretik “Paracetamol”. Kami selaku penyusun makalah ini berharap supaya makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dipergunakan dengan baik dalam perkuliahan.
Kami menyadari bahwa makalah ini belumlah sangat sempurna oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca supaya makalah ini bisa menjadi lebih baik.















                                                                                                   Padang,November 2015

                                                                                                               Kelompok 1

i


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR……………………………………………………………...………i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………..……...ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang…………………………………………………………………….…….1
1.2  Rumusan Masalah……………………………………………………………………….1
1.3  Tujuan Penulisan……………………………………………………………….………..1

BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Analgetik …………………………………………………………………………..…..2
2.1.1 Definisi Analgetik ……………………………………………………………………2
2.1.2        Pembagian Analgetik………………………………………………………………..2
2.2 Antipiretik……………………………………………………………………………....4
2.2.1 Definisi Antipiretik…………………………………………………………………....4
2.3 Cara Kerja dari  Analgetik Antipiretik…………………………………………………..4

BAB III APLIKASI TEORI
3.1 Pengertian Parasetamol………………………………………………………………..….6
3.2 Sejarah Parasetamol………………………………………………………………………6
3.3 Struktur Kimia Parasetamol………....................................................................................7
3.3.1 Sifat Zat Berkhasiat …………………………………………………………………..7
3.3.2 Sifat Fisika……………………………………………………………………………...7
3.3.3 Farmakokinetik……………………………………………………………………….....8
3.3.4 Farmakodinamik………………………………………………………………………...8
3.4 Indikasi………………………………………………………………………....................8
3.5 Kontraindikasi……………………………………………………………………….........8
3.6 Sediaan dan Posologi……………………………………………………………………..8
3.7 Dampak Parasetamol……………………………………………………………………..9.

BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan……………………………………………………………………….............11
4.2 Saran……………………………………………………………………….......................11

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………………...iii




BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Di zaman sekarang ini semakin tidak menentunya cuaca atau iklim di negara Indonesia maupun di negara-negara lain merupakan akibat dari tingkah laku dan perbuatan manusia. Mulai dari penebangan hutan yang merajalela sampai pola hidup yang tidak baik. Seiring dengan musim yang berjalan dengan tidak menentu sehingga menyebabkan seseorang mudah sakit. Di era sekarang obat- obatan banyak dijual bebas di apotik dan toko obat, sehingga banyak dari kita sering menggunakan obat-obatan tanpa pengawasan dokter. Penggunaan obat yang tidak sesuai dengan aturan atau petunjuk dokter sangat berbahaya bagi tubuh akibat atau efeknya bisa langsung kelihatan dan bahkan mungkin baru beberapa tahun ke depan.
Setiap orang tentunya pernah merasakan rasa nyeri. Mulai dari nyeri ringan seperti sakit kepala, nyeri punggung, nyeri haid, reumatik dan lain-lain seperti nyeri yang berat. Obat nyeri itu dinamakan obat analgesik. Analgesik yang sering digunakan salah satunya adalah parasetamol. Selain sebagai analgesik, parasetamol juga dapat digunakan untuk obat antipirek (demam). Parasetamol banyak digunakan karena disamping harganya murah, parasetamol adalah anti nyeri yang aman untuk swamedikasi (pengobatan mandiri.
Parasetamol adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual secara bebas. Indikasi parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri otot sementara, sakit menjelang menstruasi, dan diindikasikan juga untuk demam. Parasetamol itu aman terhadap lambung juga merupakan Analgesik pilihan untuk ibu hamil maupun menyusui. Tapi bukan berarti parasetamol tidak mempunyai efek samping. Efek samping parasetamol berdampak ke liver atau hati. Parasetamol bersifat toksik di hati jika digunakan dalam dosis besar.
Parasetamol (Asetaminofen) merupakan senyawa organik yang banyak digunakan dalam obat sakit kepala karena bersifat analgesik (menghilangkan sakit), sengal-sengal, sakit ringan, dan demam. Parasetamol digunakan dalam sebagian besar resep obat analgesik salesma dan flu. Untuk mengetahui lebih jelasnya tentang parasetamol, kita akan membahas mengenai apa pengertian parasetamol, apa saja kegunaan atau manfaat dari parasetamol serta  dampak atau efek samping parasetamol yang tidak sesuai dengan dosis.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan Analgetik antipiretik?
1.2.2 Bagaimana cara kerja dari analgetik  antipiretik?
1.2.3 Apa sajakah macam-macam dari analgetik antipiretik?
1.2.4 Apakah kegunaan dari obat analgetik, antipiretik dan antiinflamasi?
1.2.5  Apa sajakah contoh dari  obat analgetik antipiretik serta penjelasannya?

1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk mengetahui apa yang dimakasud dengan analgetik antipiretik
1.3.2 Untuk mengetahui cara kerja analgetik antipiretik
1.3.3 Untuk mengetahui kegunaan analgetik antipiretik
1.3.4 Untuk mengetahui contoh dari obat analgetik antipiretik
1


BAB II
TINJAUAN TEORI


2.1 Analgetik
2.1.1 Definisi Analgetik
Analgetik atau obat-obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.
- Penyebab sakit/ nyeri.
Didalam lokasi jaringan yang mengalami luka atau peradangan beberapa bahan algesiogenic kimia diproduksi dan dilepaskan, didalamnya terkandung dalam prostaglandin dan brodikinin. Brodikinin sendiri adalah perangsang reseptor rasa nyeri. Sedangkan prostaglandin ada 2 yang pertama Hiperalgesia yang dapat menimbulkan nyeri dan PG(E1, E2, F2A) yang dapat menimbulkan efek algesiogenic.
- Mekanisme:
Menghambat sintase PGS di tempat yang sakit/trauma jaringan.
- Karakteristik:
1. Hanya efektif untuk menyembuhkan sakit
2. Tidak narkotika dan tidak menimbulkan rasa senang dan gembira
3. Tidak mempengaruhi pernapasan
4. Gunanya untuk nyeri sedang, ex: sakit gigi
2.1.2 Analgesik di bagi menjadi 2 yaitu:
1.      Analgesik Opioid/analgesik narkotika
Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memilikisifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri seperti pada fractura dan kanker.
Macam-macam obat Analgesik Opioid:
  1. Metadon.
  1. Fentanil.
  1. Kodein







2


2.      Obat Analgetik Non-narkotik
Obat Analgesik Non-Nakotik dalam Ilmu Farmakologi juga sering dikenal dengan istilah Analgetik/Analgetika/Analgesik Perifer. Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral. Penggunaan Obat Analgetik Non-Narkotik atau Obat Analgesik Perifer ini cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga efek menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga tidak mengakibatkan efek ketagihan pada pengguna (berbeda halnya dengan penggunanaan Obat analgetik jenis analgetik narkotik).Efek samping obat-pbat analgesik perifer: kerusakan lambung, kerusakan darah, kerusakan hati dan ginjal, kerusakan kulit.
Macam-macam obat Analgesik Non-Narkotik:
a.       Ibupropen
b.      Paracetamol/acetaminophen
c.       Asam Mefenamat

Biasanya analgesik di golongkan menjadi beberapa kelompok, antara lain:
1. Analgesik – Antipiretik Contoh parasetamol, fenasetin
2. Analgesik – AntiInflamasi contoh ibuprofen, asam mefenamat
3. Analgesik – Antiinflamasi kuat contoh Aspirin, Natrium Salisilat

Selain digolongkan berdasarkan efeknya, analgesik juga di golongkan berdasar tempat kerjanya. Penggolongan ini membedakan analgesik menjadi:
1. Analgesik Sentral
Yaitu analgesik yang menduduki reseptor miu contohnya tramadol, morphine
2. Analgesik Perifer
Yaitu analgesik yang bekerja pada saraf perifer contohnya parasetamol
Atas kerja farmakologisnya, analgesic dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu:
1. Analgetik Perifer (non narkotik)
Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
2. Analgetik Narkotik
Khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti fraktur dan kanker.
Berikut jenis obat analgetik narkotik :
a. Morfin dan derivatnya :
ü Morfin
ü Heroin
ü Hidromorfon
ü Oksimorfon
3


ü Levorfanol
ü Levalorfan
ü Kodein
ü Hidrokodon
ü Oksikodon
ü Nalorfin
ü Nalokson
ü Nalbufin
ü Tebain

b. Meperidin dan derifat fenilpiperidin :
ü Meperidin
ü Alfaprodin
ü DifenoksilatFentanil
ü Loperami
ü Metadon Dan Opioid lainx :
ü Metadon
ü Propoksifen
ü Dekstromoramida
ü Bezitramida

2.2  Antipiretik
2.2.1 Definisi Antipiretik
Obat antipiretik adalah obat untuk menurunkan panas. Hanya menurunkan temperatur tubuh saat panas tidak berefektif pada orang normal. Dapat menurunkan panas karena dapat menghambat prostatglandin pada CNS.
Macam-macam obat Antipiretik:
1.      Benorylate
2.      Fentanyl
3.      Piralozon

2.3 Cara Kerja dari  Analgetik Antipiretik
Umumnya cara kerja analgetik-antipiretik adalah dengan menghambat sintesa neurotransmitter tertentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam. Dengan blokade sintesa neurotransmitter tersebut, maka otak tidak lagi mendapatkan "sinyal" nyeri,sehingga rasa nyerinya berangsur-angsur menghilang.
4

Rasa nyeri hanya merupakan suatu gejala, fungsinya memberi tanda tentang adanya gangguan-gangguan di tubuh seperti peradangan, infeksi kuman atau kejang otot. Rasa nyeri disebabkan rangsang mekanis atau kimiawi, kalor atau listrik, yang dapat menimbulkan kerusakan jaringan dan melepaskan zat yan disebut mediator nyeri (pengantara). Zat ini merangsang reseptor nyeri yang letaknya pada ujung syaraf bebas di kulit, selaput lendir dan jaringan lain. Dari tempat ini rangang dialaihkan melalui syaraf sensoris ke susunan syaraf pusat (SSP), melalui sumsum tulang belakang ke talamus (optikus) kemudian ke pusat nyeri dalam otak besar, dimana rangsang terasa sebagai nyeri.






























5


BAB III
APLIKASI TEORI

“PARASETAMOL”

3.1. Pengertian Parasetamol
Parasetamol (asetaminofen) merupakan obat analgetik non narkotik dengan cara kerja menghambat sintesis prostaglandin terutama di Sistem Syaraf Pusat (SSP) . Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara baik dalam bentuk sediaan tunggal sebagai analgetik-antipiretik maupun kombinasi dengan obat lain dalam sediaan obat flu, melalui resep dokter atau yang dijual bebas. (Lusiana Darsono 2002)
Parasetamol adalah paraaminofenol yang merupakan metabolit fenasetin dan telah digunakan sejak tahun 1893 (Wilmana, 1995). Parasetamol (asetaminofen)
mempunyai dayakerja analgetik, antipiretik, tidak mempunyai daya kerja anti radang dan tidak menyebabkan iritasi serta peradangan lambung (Sartono,1993).
Hal ini disebabkan Parasetamol bekerja pada tempat yang tidak terdapat peroksid sedangkan pada tempat inflamasi terdapat lekosit yang melepaskan peroksid sehingga efek anti inflamasinya tidak bermakna. Parasetamol berguna untuk nyeri ringan sampai sedang, seperti nyeri kepala, mialgia, nyeri paska melahirkan dan
keadaan lain (Katzung, 2011)
Parasetamol, mempunyai daya kerja analgetik dan antipiretik sama dengan asetosal, meskipun secara kimia tidak berkaitan.Tidak seperti Asetosal, Parasetamol tidak mempunyai daya kerja antiradang, dan tidak menimbulkan iritasi dan
pendarahan lambung. Sebagai obat antipiretika, dapat digunakan baik Asetosal, Salsilamid maupun Parasetamol.
Diantara ketiga obat tersebut, Parasetamol mempunyai efek samping yang paling ringan dan aman untuk anak-anak. Untuk anak-anak di bawah umur dua tahun sebaiknya digunakan Parasetamol, kecuali ada pertimbangan khusus lainnya dari
dokter. Dari penelitian pada anak-anak dapat diketahui bahawa kombinasi Asetosal dengan Parasetamol bekerja lebih efektif terhadap demam daripada jika diberikan sendiri-sendiri. (Sartono 1996)

3.2 Sejarah Parasetamol
Pada tahun 1946, Lembaga Studi Analgetik dan obat-obatan sedative telah memberi bantuan kepada Departemen Kesehatan New York untuk mengkaji masalah yang berkaitan dengan agen analgetik. Bernard Brodie dan Julius Axelrod telah ditugaskan untuk mengkaji mengapa agen bukan aspirin dikaitkan dengan adanya methemoglobinemia, sejenis keadaan darah tidak berbahaya.(Yulida.A.N. 2009)
Di dalam tulisan mereka pada 1948, Brodie dan Axelrod mengaitkan penggunaan asetanilida dengan methemoglobinemia, dan mendapati pengaruh
analgetik asetanilida adalah disebabkan metabolit Parasetamol aktif. Mereka membela


6

penggunaan Parasetamol karena memandang bahan kimia ini tidak mengahasilkan racun asetanilida.(Yulida.A.N. 2009)
Derivat- asetanilida ini adalah metabolit dari fenasetin, yang dahulu banyak digunakan sebagai analgetik, tetapi pada tahun 1978 telah ditarik dari peredaran karena efek sampingnya (nefrotoksisitas dan karsinogen). Khasiatnya analgetik dan antipiretik, tetapi tidak antiradang. Dewasa ini pada umumnya dianggap sebagai zat antinyeri yang paling aman, juga untuk swamedikasi(pengobatan mandiri). Efek
analgetiknya diperkuat oleh kafein dengan kira-kira 50% dan kodein. Resorpsinya dari usus cepat dan praktis tuntas, secara rectal lebih lambat. Efek samping tak jarang
terjadi, antara lain reaksi hipersensitivitas dan kelainan darah. (Yulida.A.N. 2009)
Overdosis bisa menimbulkan mual, muntah dan anoreksia.
Penanggulangannya dengan cuci lambung, juga perlu diberikan zat-zat penawar (asam amino N-asetilsistein atau metionin) sedini mungkin, sebaiknya dalam 8-10 jam setelah intoksikasi. Wanita hamil dapat menggunakan Parasetamol dengan aman, juga selama laktasi walaupun mencapai air susu ibu. Interaksi pada dosis tinggi
memperkuat efek antikoagulansia, dan pada dosis biasa tidak interaktif.(Tjay, 2002)

3.3 Struktur Kimia Parasetamol
rms.png


3.3.1 Sifat Zat Berkhasiat
Menurut Dirjen POM. (1995), sifat-sifat Parasetamol adalah sebagai berikut:
Sinonim : 4-Hidroksiasetanilida
Berat Molekul : 151.16
Rumus Empiris : C8H9NO2.

3.3.2 Sifat Fisika
Pemerian :
Serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit.
Kelarutan : larut dalam air mendidih dan dalam NaOH 1N; mudah larut
dalam etanol.
Jarak lebur : Antara 168dan 172

3.3.3 Farmakokinetik
Parasetamol cepat diabsorbsi dari saluran pencernaan, dengan kadar serum puncak dicapai dalam 30-60 menit. Waktu paruh kira-kira 2 jam. Metabolisme di hati, sekitar 3 % diekskresi dalam bentuk tidak berubah melalui urin dan 80-90 % dikonjugasi dengan asam

7

glukoronik atau asam sulfurik kemudian diekskresi melalui urin dalam satu hari pertama; sebagian dihidroksilasi menjadi N asetil benzokuinon yang sangat reaktif dan berpotensi menjadi
 metabolit berbahaya. Pada dosis normal bereaksi dengan gugus sulfhidril dari glutation menjadi substansi nontoksik. Pada dosis besar akan berikatan dengan sulfhidril dari protein hati.(Lusiana Darsono 2002)

3.3.4 Farmakodinamik
Efek analgesik Parasetamol dan Fenasetin serupa dengan Salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Efek antiinflamasinyasangat lemah, oleh karena itu Parasetamol dan Fenasetin tidak digunakan sebagai antireumatik. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis prostaglandin (PG) yang lemah. Efek iritasi, erosi dan perdarahan lambung tidak terlihat pada kedua obat ini, demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam basa.(Mahar Mardjono 1971) Semua obat analgetik non opioid bekerja melalui penghambatan siklooksigenase. Parasetamol menghambat siklooksigenase sehingga konversi asam arakhidonat menjadi prostaglandin terganggu. Setiap obat menghambat siklooksigenase secara berbeda. Parasetamol menghambat siklooksigenase pusat lebih kuat dari pada aspirin, inilah yang menyebabkan Parasetamol menjadi obat antipiretik yang kuat melalui efek pada pusat pengaturan panas. Parasetamol hanya mempunyai efek ringan pada siklooksigenase perifer. Inilah yang menyebabkan Parasetamol hanya menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri ringan sampai sedang.
Parasetamol tidak mempengaruhi nyeri yang ditimbulkan efek langsung prostaglandin, ini menunjukkan bahwa parasetamol menghambat sintesa prostaglandin dan bukan blokade langsung prostaglandin. Obat ini menekan efek zat pirogen endogen dengan menghambat sintesa prostaglandin, tetapi demam yang ditimbulkan akibat pemberian prostaglandin tidak dipengaruhi, demikian pula peningkatan suhu oleh sebab lain, seperti latihan fisik. (Aris 2009)

3.4 Indikasi
Parasetamol merupakan pilihan lini pertama bagi penanganan demam dan nyeri sebagai antipiretik dan analgetik. Parasetamol digunakan bagi nyeri yang ringan sampai sedang.(Cranswick 2000)

3.5 Kontra Indikasi
Penderita gangguan fungsi hati yang berat dan penderita hipersensitif
terhadap obat ini. (Yulida 2009)

3.6 Sediaan dan Posologi
Parasetamol tersedi sebagai obat tunggal, berbentuk tablet 500mg atau sirup
yang mengandung 120mg/5ml. Selain itu Parasetamol terdapat sebagai sediaan
kombinasi tetap, dalam bentuk tablet maupun cairan. Dosis Parasetamol untuk



8



3.7 Dampak Penggunaan Paracetamol
Parasetamol memang manjur menghilangkan sakit kepala atau pusing, demam. Tetapi dibalik keampuhannya tersebut, ternyata parasetamol menyimpan bahaya yang cukup besar
yakni dapat menurunkan fungsi paru-paru, merusak ginjal dan dapat mengakibatkan asthma, bronchitis. Hampir setiap obat sakit kepala dan demam yang dijual secara bebas pasti mengandung parasetamol, hanya saja kadarnya yang berbeda. Parasetamol boleh dikonsumsi 5 hari untuk anak-anak dan 10 hari untuk dewasa dengan dosis seperti dibawah ini.
Umur
Dosis Parasetamol
3 bulan – 1 tahun
60 – 120 mg
1 – 5 tahun
120 – 250 mg
6 – 12 tahun
250 – 500 mg
Dewasa
500 mg – 1 g

Meski demikian, penggunaan obat secara rutin atau berlebihan dapat menganggu kesehatan apalagi bagi penderita penyakit asma, dan penyakit paru-paru obstruktif menahun atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD) karena apabila obat ini digunakan setiap hari maka dapat menyebabkan penurunan fungsi paru-paru. Hasil ini berdasarkan data survei yang dikumpulkan oleh “Third National Health and Nutrition Examination Survey” dari tahun 1988-1994 pada sekitar 13.500 orang dewasa di Amerika Serikat. Mereka semua memberikan informasi akan obat yang dipakai yaitu Aspirin Parasetamol dan Ibuprofen.
Dosis tinggi dari Parasetamol akan menurunkan kadar dari salah satu antioksidan yang penting, yaitu Glutathion, yang ada pada jaringan paru. Jadi, kemungkinan gangguan paru yang terjadi akibat pemakaian rutin Parasetamol disebabkan karena terjadi penurunan Glutathion, yang menyebabkan peningkatan resiko dari kerusakan jaringan paru dan peningkatan dari penyakit pernafasan. Over dosis dari parasetamol dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Efek samping yang ditimbulkan adalah methemoglobin dan hepatotoksik.
Takar lajak asetaminofen dapat menjadi sangat toksik dan berbahaya terhadap sel-sel hati yang menimbulkan hepatotoksisitas. Jika dosis tunggal 10 gram atau 30 tablet masing-masing (325 mg). Asetaminofen atau parasetamol yang diminum berlebihan memicu timbulnya kerusakan di hepar.
Overdosis dari asetaminofen atau parasetamol dapat menyebabkan kematian. Overdosis dari parasetamol misalnya jika terdapat gejala mual, muntah, lemas dan keringat berlebih. Dan kematian dapat terjadi dalam waktu 1-4 hari setelah mengkonsumsi asetaminofen atau parasetamol yang berlebih karena timbulnya nekrosis hati. Jika seorang anak memakan tablet atau sirup asetaminofen dalam jumlah yang berlebihan maka anak tersebut harus segera dibawa ke ruang gawat darurat sebab hal ini dapat mengakibatkan gangguan kronis di hepar.
Penggunaan paracetamol terus menerus dapat menyebabkan overdosis dan keracunan. Keracunan parasetamol disebabkan karena akumulasi dari salah satu metabolitnya yaitu N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI), yang dapat terjadi karena overdosis, pada pasien malnutrisi, atau pada peminum alkohol kronik. Keracunan parasetamol biasanya terbagi dalam 4 fase, yaitu:


9

Fase 1
Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, perasaan tak menentu pada tubuh yang tak nyaman (malaise) dan banyak mengeluarkan keringat.
Fase 2
Pembesaran liver, peningkatan bilirubin dan konsentrasi enzim hepatik, waktu yang dibutuhkan untuk pembekuan darah menjadi bertambah lama dan kadang-kadang terjadi penurunan volume urin.
Fase 3
Berulangnya kejadian pada fase 1 (biasanya 3-5 hari setelah munculnya gejala awal) serta terlihat gejala awal gagal hati seperti pasien tampak kuning karena terjadinya penumpukan pigmen empedu di kulit, membran mukosa dan dan sklera (jaundice), hipoglikemia, kelainan pembekuan darah, dan penyakit degeneratif pada otak (encephalopathy). Pada fase ini juga mungkin terjadi gagal ginjal dan berkembangnya penyakit yang terjadi pada jantung (cardiomyopathy)
Fase 4
Penyembuhan atau berkembang menuju gagal hati yang fatal
Overdosis yang tak dapat penanganan cepat dapat menyebabkan kegagalan liver dan kematian. Parasetamol jika diminum dalam dosis sangat besar, dapat menyebabkan kerusakan di hati dan ginjal. Oleh karena itu, sebaiknya dijauhkan dari jangkauan anak-anak
Beberapa poin penting yang perlu dicermati dalam penggunaan paracetamol :
-          Hentikan penggunaan parasetamol bila demam berlangsung lebih dari 3 hari atau nyeri semakin memburuk lebih dari 10 hari, kecuali atas saran dokter.
-          Bagi ibu hamil dan menyusui, konsultsikan dengan dokter jika hendak menggunakan obat ini.
-          Orang dengan penyakit gangguan liver sebaiknya tidak menggunakan obat ini.
-          Konsultasikan dengan dokter sebelum mengkombinasi parasetamol dengan obat-obat NSAID, antikoagulan (warfarin), ataupun kontrasepsi oral.
-          Penggunaan parasetamol bersama alkohol dpat meningkatkan toksisitas hati.
-          Konsumsi vitamin C dosis tinggi dapat meningkatkan kadar parasetamol dalam tubu













10



BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN
Analgetik yaitu obat anti nyeri. Mekanisame kerja menghambat sintase PGS di tempat yang sakit/trauma jaringan.
Karakteristik :
1.      Hanya efektif untuk menyembuhkan sakit
2.      Tidak narkotika dan tidak menimbulkan rasa senang dan gembira
3.      Tidak mempengaruhi pernapasan
4.      Gunanya untuk nyeri sedang, contohnya: sakit gigi
Macam - macam Analgetik :
1. Analgetik Opioid/analgetik narkotika
2. Obat Analgetik Non-narkotik
Parasetamol merupakan senyawa kimia organik yang banyak digunakan dalam obat sakit kepala karena bersifat analgesik (menghilangkan sakit). Parasetamol atau 4-hidroksiasetanilida dengan rumus molekul  dan bobot molekul 152.16. Parasetamol sebagai obat penurun panas sekaligus pereda nyeri. Parasetamol bisa digunakan untuk demam dan sakit seperti sakit gigi, sakit lambung, dan sebagainya. Parasetamol ini lebih aman bagi lambung sehingga cocok bagi penderita maag atau gastritis. Tetapi dibalik keampuhannya tersebut, parasetamol memiliki bahaya yang cukup besar yakni dapat menurunkan fungsi paru-paru, merusak ginjal dan dapat mengakibatkan asthma, bronchitis. Selain itu, Overdosis dari asetaminofen atau parasetamol dapat menyebabkan kematian. Dan kematian itu dapat terjadi dalam waktu 1-4 hari setelah mengkonsumsi asetaminofen atau parasetamol yang berlebih karena timbulnya nekrosis hati.

4.2   SARAN
Selesainya makalah ini tidak terlepas dari banyaknya kekurangan-kekurangan pembahasannya dikarenakan oleh berbagai macam faktor keterbatasan waktu waktu, pemikiran dan pengetahuan kami yang terbatas, oleh karena itu untuk kesempernuan makalah ini kami sangat membutuhkan saran-saran dan masukan yang  bersifat membangun kepada semua pembaca.
Sebaiknya gunakanlah obat sesuai anjuran dokter, dan pergunakan lah obat tersebut sesuai dengan penyakit yang diderita , jangan menggunakan obat kurang atau melebihi batasnya.
1.      Bagi Pengguna Parsetamol
Para pengguna parasetamol diharapkan untuk menggunakan dosis tepat, tidak berlebihan, bila dosis berlebihan dapat menimbulkan gangguan fungsi hati dan ginjal. Pengguna setia parasetamol diharapkan untuk mengurangi ketergantungannya dalam
11

mengkonsumsi parasetamol agar tidak menimbulkan efek yang berlebih seperti dapat menurunkan fungsi paru-paru, merusak ginjal dan dapat mengakibatkan asthma, bronchitis, serta dapat menyebabkan kematian.
2.      Bagi Orang Tua
Orang tua diharapkan menjaga serta menyimpan parasetamol atau asetaminofen agar jauh dari jangkauan anak-anak. Dan orang tua di harapkan memberikan obat parasetamol sesuai dengan dosis dan berlebihan.
































12


DAFTAR PUSTAKA


Chairns, Donald. 2004. Intisari Kimia Farmasi Edisi 2. Jakarta : EGC

Drs.Priyanto, Apt, M. Biomed. 2008. Farmakologi Dasar untuk Mahasiswa Farmasi

Gunawan.G.Sulistia. 2007. Farmakologi dan Terapi. Balai Penerbit FKUI.  Jakarta
Keperawatan. Liskonfi. Jawa Barat

Ikawati, Zullies . 2010. Cerdas Mengenali Obat. Yogyakarta: Kanisius.

Joyce, L. Ke. 2005. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC

Nana Sutresna. 2007. Cerdas Belajar Kimia. Bandung : Grafindo Media Pratama.

Neil, M. J. 2005 . At A Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima. Jakarta: EMS

Tan dan Kirana Rahardja. 2010.Obat-obat Sederhana untuk Gangguan Sehari-hari. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo





















MAKALAH FARMAKOLOGI
ANALGETIK-ANTIPIRETIK
“PARASETAMOL”

logo.jpg

OLEH

KELOMPOK 1
II B

1.      Andina Bunga Syafel
2.      Dian Diana
3.      Fanida Norisan Fajrin
4.      Mutiara Angreini Zen
5.      Rima Julita
6.      Suci Aulia Rahmi

DOSEN PEMBIMBING
Dra. Sukapti Apt



PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
TAHUN AJARAN 2015 / 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar